- Back to Home »
- MENCARI MODEL GERAKAN IPM BARU
(Oleh-oleh TMU Bengkulu 2010)
Gerakan
pelajar di Indonesia dianggap mengalami kemunduran jauh dari periode awal
revolusi dimana gerakan kaum pelajar menduduki actor sejarah paling utama
disbanding dengan kelompok lain seperti buruh, tani, nelayan dan kaum
aristokrasi traditional. Pasca reformasi, gerakan pelajar kembali disoroti
semakin melembek dan kehilangan orientasi gerakan. IPM sebagai gerakan pelajar
bercirikan modern dan islam mengalami dinamikanya sendiri. Meski secara
paradigm mengalami transformasi namun sejatinya mindset sebagian besar anggota
tidak berubah bahkan menghadapi persoalan internal yang tidak tuntas termasuk
birokratisasi diri, elitism, problem bahasa pergerakan dan sebagainya yang
menjadi hambatan tersendiri bagi proses transformasi gerakan.
IPM
adalah sebuah organ hidup yang dinamis. Menggeliat jika ditekan, dan malawan
jika terancam. Cirinya adalah bergerak seirama sejalan ketika melihat
kemungkaran ditegakkan dan selalu gelisah melihat fenomena jahiliyah modern:
westernaisasi, kapitalisme, globalisme, dan sebagainya. Benarkah nilai-nilai
positif itu masih bisa diklaim oleh kader-kader atau simpatisan? Bisakah
pasukan elite IPM di level pusat dan wilayah berfikir apa yang sedang terjadi
setelah hampir separuh abad gerakan ini dilahirkan? Bisakah kita berfikir, refleksi
kritis dan ideologis tentu akan memberikan bobot tersendiri bagi
keberlangsungan kader dan pergerakan. Tidak bisa dipungkiri, bahwa bangsa ini
masih butuh sumbangsih gerakan pelajar
tetapi gerakan pelajar yang bagaimana yang memberikan ruang yang kondusif untuk
perubahan—transformasi bangsa terutama dikalangan pelajar Indonesia. Melalui Pelatihan Kader Taruna
Melati Utama ini diharapkan mampu menjadi forum curah gagasan untuk menggagas model gerakan IPM baru untuk sinergisitas nilai &
perjuangan.
Falsafah Pergerakan IPM
IPM
adalah sebuah gerakan pelajar (student
movement), artinya IPM selalu melakukan gerakan-gerakan secara
terus-menerus berpihak untuk kepentingan pelajar. Yang mana dalam pergerakannya
IPM memperjuangkan Agama (tauhid), Ilmu, ummat, bangsa dan Negara. Tauhid dan
Ilmu adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan dalam falsafah pergerakan IPM,
kedua hal ini ialah ruh gerakan IPM sebelum membawa nilai-nilai yang lain. Bagi
IPM bertauhid tanpa Ilmu ialah buta, bagaikan seoran sufi yang kehilangan
tongkatnya. Sedangkan bila berilmu tanpa tauhid, akan berbahaya kerena ilmu
tanpa tauhid akan membawa pada kerusakan. Selain dua hal di atas, apa yang
dilakukan IPM harus berdampak pada ummat, Negara dan bangsa Indonesia. Sebagai
bentuk kerahmatan semesta alam, IPM mengawal terbentuknya Baldatun Toyyibantun
warabbun Ghofur, yaitu masyarakat utama yang berperadaban. Kesemuanya itu
adalah manifestasi dari perjuangan tauhid dan ilmu. Sekarang yang menjadi salah
satu ancaman IPM sendiri adalah muncul
dari dalam atau inworld looking (kita bisa mudah mengidentifikasi ini) dan outworld
looking (melihat realitas yang menjadi persoalan sehingga menjadi perioritas
gerakan.
IPM
memiliki paradigm gerakan, yaitu Gerakan kritis transformative IPM yang
ditanfidzkan pada Muktamar Bandar Lampung adalah sebuah gerak lintasan jauh ke
depan lalu dikerdilkan kembali dengan persoalan militansi, lalu diperkuat
dengan kedaulatan pelajar dan dilenyapkan dengan pragmatism, kini muktamar
terakhir menunjukkan menguatnya aliran developmentalisme dalam tubuh IPM.
Ideologi semakin sirna dengan kemunculan ide
pelajar kreatif yang dimanifestasikan dengan program komunitas sebagai
basis gerakan tanpa bobot ideology dan
miskin kerangka rekayasa social (social engineering). Disinilah dalam Taruna melati Utama di Bumi
Raflesia, IPM melakukan refleksi dan evaluasi, sudahkah sinergi antara
nilai-nilai yang diperjuangkan dengan tujuan yang dicapai, serta metode gerakan
yang digunakan. Pada Taruna Melatu Utama kali ini ditemukan bahwa IPM mempunyai
paradigma yang terdi dari tiga dimensi dalam melihat persoalan yang dihadarpi,
yaitu keilmuan, kritis-terbuka, dan hati suci, paradigm ini adalah
dianggap relevan untuk IPM sekarang dan sesuai dengan falsafar KHA Dahlan.
Setelah
berbicara paradigma, hal yang tidak boleh lepas karena menjadi kesatuan
perjuangan ialah nilai-nilai (values). Diantara nilai-nilai yang menjadi perioritas
perjuangan IPMada lima nilai, yaitu katauhidan, keilmuan, kekaderan,
keorganisasian, dan kemanusiaan. Pertama,
nilai ketahidan artinya IPM berjuang
dan berkomitmen dalam upaya melakukan pemahaman terhadap pelajar muslim tentang
tauhid yang benar. Yakni tauhid yang membebaskan dari hal-hal yang bersifat thoghut, kemudian menghasilkan pelajar
yang sholih-muslih (sholih-dinamis) yang sholih secara individu dan mampu
menyolehkan orang lain, dan lingkungan sekitar. Semua dibingkai dalam religious
integral. Kedua, nilai keilmuan, artinya IPM meletakkan data, ralitas sosial, dan hasil-hasil kajian sebagai landasan
berpikir dan bergerak,
IPM meletakkan Al-qur’an sebagai sumber ilmu,
kemudian mengaitkan antara konsep Al-Qur’an dan realitas sebagai dua hal yang
tidak dapat terlepas, IPM memandang ilmu pengetahuan sebagai
hal yang harus dikembangkan. Sehingga IPM memiliki semangat dalam mendukung,
mewadahi, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. IPM memandang ilmu sebagai konsep yang
harus diaktualisasikan (diamalkan). IPM menganggap bahwa ilmu tanpa amal adalah
pohon tanpa buah yang keberadaanya tidak memiliki manfaat, sehingga mampu mewujudkan pelajar yang berilmu.
Ketiga, nilai kekaderan.
IPM dalam berjuang harus memperhatikan nilai kepenerusan atau kesinambungan
gerakan. IPM berjuang bagaimana bisa membentuk kader (penerus) yang kuat dan
mampu melanjutkan perjuangan Muhammadiyah. Nilai ini sangat penting dalam roh
setiap organisasi atau gerakan, terutama organisasi Islam. Islam memang tidak
akan lenyap dari bumi, tetapi Islam mampu hilang dari bumi Indonesia melalui
organisasi-organisasi besar Islam yang musnah satu per satu, dan organisasi itu
akan musnah jika tidak memiliki kader-kader yang meneruskan atau memiliki kader
namun lemah (inleander) tak berdaya. IPM tidak cukup menghasilkan pemimpin
(leader) namun pemimpin yang tidak buta huruf yang mempu bersaing dengan apapun
untuk berjuang yang disebut dengan (cracker).
Keempat, nilai
keorganisasian. Nilai ini sangat penting dimiliki oelh sebuah organisasi,
kesatuan tujuan, sekelompok orang dan kerja sama atas dasar saling membutuhkan
ini harus dipelihara dan diperjuangkan dalam IPM. IPM bergerak menjadi aksentuator
Muhammadiyah, artinya jika Muhammadiya kurang terdengan bahlkan tidak
ada gaungnya sedikitpun, IPM berperan melakukan aksentuasi untuk menggaungkan
perjuangan Muhammadiyah. Sehingga nilai-nilai organisasi Muhammadiyah mampu
tersampaikan pada masyarakat. Kelima, nilai
kemanusiaan. pelajar tidak
bisa dipisahkan dari realitas hidup.
Pelajar bersama IPM dituntut untuk memiliki kepekaan dan
kepedulian terhadap realitas sosial. Pelajar bagaimanapun
sempurna pribadinya, tidaklah akan mempunyai arti dan nilai hidupnya, kalau
sifat kehidupannya secara perseorangan( sendiri-sendiri). IPM harus memiliki rasa cinta sesama manusia (filantropi),
dan mampu membangun kehidupan bersama masyarakat dalam rangka mewujudkan
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (masyarakat utama).
Selanjutnya berawal dari paradigma dan nilai yang diramu
dalam satu tujuan, untuk mencapai tujuan itu IPM memiliki KHITTAH
PERJUANGAN IPM yang menjadi misi aktif sebagai garis perjuangan: 1. Menanamkan
nilai-nilai ketauhidan pelajar sehingga memiliki karakter kesolehan yang
dinamis, 2. Memperkokoh tradisi semangat membaca, menulis, diskusi,
dan berprestasi. 3. Membangun karakter
kader terutama para level pimpinan IPM sehingga mampu melakukan transformasi
sosial pelajar.4. Meneguhkan identitas
organisasi sebagai gerakan pelajar populis dikalangan pelajar 5. Menguatkan komunikasi antara pimpinan dengan
pimpinan dan pimpinan dengan anggota mulai dari pimpinan pusat sampai pimpinan
ranting6. Membentuk Counter
Culture, dan 7. Membumikan semangat nasionalisme dalam jiwa pelajar.
Kemudian
wujud dari khittah tersebut diturunkan dalam Agenda Aksi yang sesuai denga
realitas pelajar, dalam TMU Bumu Raflesia kali ini IPM memiliki beberapa agenda
aksi diantaranya: Gerakan Tauhid Amal, Garakan Pelajar Berprestasi, Gerakan
Kader, Gerakan Filantropi, serta gerakan cinta Indonesia. Semua itu dalam
rangka mewujudkan tujuan bersar UPM, yakni “Terbentuknya pelajar yang bertaqwa,
berilmu, dan terampil yang mampu meneruskan perjuagan Muhammadiyah dalam rangka
mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.